ViralGen Referral Shopping

Suatu konsep bisnis online yang nyata dan efektif dalam menghasilkan uang di internet.Dengan Berinvestasi Rp 10.000,- http://www.sepuluhribu.com/?id=yadi72
mukjizatkartukredit.com
Tampilkan postingan dengan label cerita ini dia. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label cerita ini dia. Tampilkan semua postingan

Kamis, 08 November 2012

Nah Ini Dia :Perawan Kok Anaknya Tiga?

Perawan Kok Anaknya Tiga?

nah-sub
KASIHAN banget nasib Mahmudi, 37, ini. Jadi perjaka tua kurang pengalaman, dibohongi wanita yang kini telah jadi istrinya. Dulu Siti, 31, ngakunya perawan, eh …..ternyata masih punya suami dan beranak tiga.

Paling repot, begitu diklaim Hardo, 38, suami terdahulu, kini Mahmudi jadi repot terbawa-bawa urusan polisi.

Kata Kus Plus, paling enak jadi bujangan, ke mana-mana tak ada yang ngelarang. Kalau jadi bujangan tua, apanya yang enak? Di samping setiap malam kedinginan tidur sendirian, meski ke mana-mana tak dilarang, tapi segala urusan kan harus diselesaikan sendiri. Paling celaka, sudah kawinnya telat bin terlambat, ketemu istri yang tidak jujur dan akhirnya malah merongrong suami.

Mungkin lelaki apes itu adalah Mahmudi, warga Kecamatan Prabumulih Timur. Baru enak-enaknya punya istri baru setelah sekian tahun “puasa” , eh tahu-tahu dipanggil polisi karena ternyata menikahi wanita yang masih jadi bini orang. Padahal mestinya, belum sampai jadi suami istri pun Mahmudi mestinya bisa membedakan mana wanita yang masih single dan mana yang sudah longset!

Kisah ini bermula dari kehidupan rumahtangga Siti warga Gunung Terang yang tidak beruntung. Punya suami Hardo, ternyata menjadi penganggur abadi. Dulu memang pernah kerja, tapi begitu kena PHK, tak pernah lagi bisa mencari pekerjaan yang bener. Namun uniknya, meski cari kerja tak becus, ngerjain bini hobi banget. Maka dalam 8 tahun perkawinannya, tiga anak lahir sebagai hasil kerjasama nirlaba tersebut.

Untungnya Siti termasuk wanita yang lincah, artinya dia bisa cari penghasilan sendiri, sehingga keluarga tidak terlantar. Tapi punya suami yang statusnya hanya menjadi “pejantan” dan sekedar membuahi istri, lama-lama capek deh…. Maka setelah habis kesabarannya, dia pun menggugat cerai ke Pengadilan Agama. Tapi karena Hardo masih sayang pada istri dan anak-anak, PA Prabumulih (Sumsel) tak pernah mengabulkan.

Sementara Siti jenuh bin bosan dengan suami, dia berkenalan dengan Mahmudi yang perjaka tua. Tua umur rupanya lelaki ini tak banyak pengalaman. Soalnya, ketika Siti mengaku perawan, percaya saja. Padahal dari pisik pun kan sudah kelihatan, mana perawan dan mana yang sudah pernah punya suami dan sudah turun mesin. Karena keawamannya soal liku-liku wanita, Mahmudi setuju saja diajak naik pelaminan.

Itulah Mahmudi, sebagai perjaka tua dia ketika pacaran tak juga pernah mau “studi banding” atas calon istrinya. Dengan alasan dosa, selama pacaran juga sekedar jalan bareng dan makan bareng. Yang namanya main senggol dan raba, sama sekali tidak pernah, sehingga bagi Mahmudi tahunya Siti ini masih tangan pertama. Begitu ketika prosesi “serangan umum” non satu Maret 1949, dia juga tak sadar bahwa telah dibodohi oleh Siti yang mengaku perawan. Tahunya Mahmudi, perawan atau bukan sama saja enaknya.

Dia baru ngeh ketika beberapa hari lalu polisi datang mengusut Siti dengan tuduhan menikah lagi meski masih punya suami. Setelah dibawa ke Polres Prabumulih, barulah sadar akan kebodohannya. Karena di situ ada
Hardo yang menuntut Siti, termasuk juga dirinya. Siti dipersalahkan menikah lagi dengan mengaku perawan, sedangkan Mahmudi, menikahi wanita yang masih punya suami. “Saya nggak tahu kalau Siti sudah punya suami dan anak kok Pak,” kilahnya di depan polisi.

Ibarat bulutangkis, memangnya bolanya nyangkut di net juga? (SP/Gunarso TS) Read more...

Jumat, 05 Oktober 2012

Cintanya Seumur Jagung

PERNIKAHAN Wiwik – Jito belumlah begitu lama, boleh dikata masih masa bulan madu. Tapi dalam masa perkawinan yang seumur jagung itu, Wiwik, 20, sudah tega mengkhianati suaminya. Beberapa hari lalu dia digerebek Jito, 27, saat kelonan dengan lelaki bekas pacarnya dulu, Adi, 25. Bagaimana suami tak mencak-mencak? Cewek atau cowok, setelah menikah mestinya segera “tutup buku” atas kisah cintanya di masa lalu. Biar lebih cantik atau lebih ganteng si kekasih lama, tapi itu bukan lagi milik kita. Sebaliknya, jelek seperti apapun pasangan yang telah jadi suami/istri kita, itu wajib kita cintai, karena memang itulah jodoh yang diberikan Tuhan. Syukuri saja nikmat itu, pasti akan terasa lebih nikmaaaat! Wiwik warga Desa Desa Tlogopandan Gajah, Demak, agaknya tak mampu bersikap seperti itu. Lantaran perkawinannya tempo hari boleh kata “droping dari atas” alias dijodohkan orangtua, dia masih kemanthil-kanthil (ingat terus) pada kekasih lama, Adi. Bahkan saat malam pertama berlangsung, dia merem-merem bukan menikmati “serangan umum” suami, melainkan karena tengah membayangkan sedang melayani Adi kekasih lama. Awalnya Jito tak begitu memperhatikan sikap istrinya, karena dia juga kurang tahu masa lalu istrinya. Begitu disuruh menikah dengan Wiwik, langsung saja mau, karena secara penampilan gadis itu memang serba menggairahkan dan menjanjikan. Ibarat orang mau makan, apa yang disodorkan di atas piring langsung dirahabi (dimakan) telap telep sampai kenyang. Selesai makan digelontor air putih, lalu sendawa heeekkkkk! Nggak tahunya, Wiwik sesungguhnya tak merelakan tubuhnya dijamah lelaki lain yang bukan Adi. Maka sebagaimana telah dikatakan di atas, saat “serangan umum” non 1 Maret 1949, pelayanan Wiwik gelem ora-ora (setengah hati). Ibarat orang main bulutangkis, ketika Jito memberikan lop-lop panjang, Wiwik di kala mengembalikan bola cukup dengan bacak hand saja. Tentu saja ketika bola nyangkut di net, Jito kecewa luar binasa. Wiwik memang sangat hambar melayani suami, karena hati dan jiwanya terus menyala-nyala buat Adi cintanya seorang. Maka di kala suaminya sibuk kerja di kantor, dia sering telpon-telponan dengan kekasih lama. Ujung-ujungnya, kencan dilanjutkan dalam sebuah hotel. Meski hanya sekedar jadi “generasi penerus”, Adi senang-senang saja, karena sudah ada penanggungjawabnya secara resmi. Jika terjadi apa-apa di kemudian hari (baca: hamil), semua di luar tanggungjawab percetakan. Celakanya, ketika Wiwik sudah demikian menikmati hubungannya denganAdi selaku PIL, pelayanan pada suami menjadi kedodoran. Dia tak lagi memberikan haknya secara maksimal. Sebagai pengantin baru, kan wajar saja Jito minta jatah 2-3 kali sehari. Tapi Wiwik selalu menolak, katanya: “Aja akeh-akeh, ndak pilek (jangan banyak-banyak, nanti flu).” Padahal mestinya, justru istri mendorong untuk selalu menggebu-gebu. Semisal orang makan, ketika suami kurang berminat, mestinya bilang: “Dientekke sik, mengko pitike ndak mati (dihabiskan dulu, nanti ayamnya mati).” Begitulah, pelayanan istri yang mulai mencurigakan, memancing Jito untuk mengawasi gerak-gerik istri. Diam-diam dia membuntuti Wiwik saat dia pergi dari rumah. Ternyata di jalan dia sudah janjian dengan seorag lelaki, yang ternyaya bekas pacar lama. Ketika mereka masuk hotel di sebuah hotel, polisipun dihubungi untuk mengadakan penggerebekan. Perkiraannya benar, ketika digedor kamarnya, Adi-Wwik sedang bersetubuh bak suami istri. Keruan saja Jito jadi mencak-mencak. Klambi ijo lho dik, aja digupaki. Iki bojoku lho dik, aja ditumpaki. (KP/Gunarso TS) Read more...

Simbah yang Penuh Gairah

JIKA tukang nikah, meski usia sudah 70 tahun Mbah Sonto Imut masih sangat bergairah. Bagaimana tidak? Melihat gadis tetangga terjatuh dalam antrian air, pura-pura menolong tetapi cari kesempatan. Dibangunkan gadis itu, sambil tangan kanan “beroperasi” ke dada. Keruan saja Menik, 20, menyumpah-nyumpah. Idealnya, jadi manusia sekali saja menikah sepanjang hidupnya, lalu dipakai buat selamanya atau sampai kakek-nenek. Tapi tak semua orang bisa bernasib baik seperti itu. Ada juga yang harus pisah dari pasangan karena kematian, atau juga karena pegatan (cerai). Motif cerai juga macam-macam. Ada yang karena tak cocok dengan pasangan, banyak pula karena salah satunya ada memang yang tukang…… kawin! Nah, lelaki tukang kawin sehingga rumahtangganya selalu berantakan, salah satunya adalah Sonto Imut, warga Desa Sidoharjo Kecamatan Senori, Tuban. Hingga usia kepala tujuh sekarang, ada tiga wanita yang pernah dinikahi, tetapi semuanya kandas di jalan. Rupanya Mbah Sonto Imut menilai, wanita tak lebih dari kendaraan. Kalau masih penak (enak) dipakai, tapi jika sudah nggak enak langsung ditukar atau tukar tambah. Ketika muda, Mbah Sonto Imut masih mudah cari pasangan pengganti. Tapi setelah krepo (gaek) begini, mana ada wanita yang mau dijadikan eksperimen. Maka setelah menceraikan istrinya yang ketiga, hingga kini tak ada lagi perempuan pendamping di dalam hidupnya. Untuk biaya hidup sehari-hari Mbah Sonto dalam tanggungan salah satu anaknya, entah dari istri yang ke berapa. Sebagai lelaki yang hobi mainin perempuan, meski sudah renta begini asal lihat barang bagus, gairahnya langsung bangkit. Dulu ketika masih muda, dengan mudahnya bisa dilampiaskan. Kini, secara alami kewenangan Mbah Sonto Imut mulai terpereteli. Nguping atau nyadap pembicaraan soal wanita, masih bisa. Tapi penangkapan dan tindakan, sudah tidak bisa lagi. Jadi mirip-mirip KPK yang mau dikebiri DPR, khususnya oleh Komisi III trio: Gede Suardika – Ahmad Yani – Nudirman Munir. Di kala Mbah Sonto Imut sudah lama tak bisa “penangkapan dan tindakan”, ada gadis tetangga yang ngglibet di dekatnya. Wajahnya sih biasa-biasa saja, tapi bodi Menik sungguh seksi menggiurkan, jika tak mau disebut sekel nan cemekel. Maka jika melihat gadis itu dekat padanya, Mbah Sonto Imut tangannya gatel ingin menggerayangi. Tapi sebagai orang tua, dia masih ingin juga menjaga citra di mata khalayak. Pada musim kering 2012 ini, daerah tempat tinggal Mbah Sonto juga mengalami ketiga dawa (kemarau panjang), di mana sumber air di rumah-rumah penduduk semakin menyusut. Untuk mendapatkan air bersih, kini penduduk harus berantri panjang di sumur pompa yang dibangun pihak pemerintahan desa. Nah, Mbah Sonto Imut juga termasuk salah satu kakek yang ikut antrian panjang untuk mendapatkan air bersih. Beberapa hari lalu, gadis Menik juga ikut antri ambil air. Melihat sigadis, mata Mbah Sonto sudah nginceng (mengincar) terus macam kucing lihat gereh. Ee, ndilalah kersaning Allah, saat antri air tersebut kemudian terjadi saling dorong. Menik jatuh telentang. Mbah Sonto Imut yang merasa dapat peluang, langsung menolongnya. Tapi dia sengaja mencari kesempatan. Tangan kiri menarik tubuh sigadis, tangan kanan “beroperasi” meremas-remas payudara Menik. “Emoh, emoh, kakek ora nyebut…”, omel Menik sambil menggigit tangan Mbah Sonto Imut. Menik tak hanya sakit hati, tapi juga malu karena dijadikan korban pelecehan di depan umum. Dia segera malapor ke Polsek Sonori, dan pak polisi pun segera memanggil si kakek. Karena dia tak punya pengacara, apa lagi yang sekelas Juniver Girsang dan Hotma Sitompul, panggilan polisi itu dihadapi sendiri. Bukti-bukti sangat cukup, sehingga Mbah Sonti Imut langsung ditahan. Amit amit, Sonto Imut tak tahan lihat gadis imut-imut. (TNC/Gunarso TS) Read more...

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Ramalan jodoh dan cinta anda

peluang usaha

Cerita cinta © 2008 Template by Dicas Blogger.

TOPO